Sabtu, 23 April 2011

Analisis Dengan Kromatografi Gas

Analisis Kualitatif
Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang dapat menghasilkan identifikasi kualitatif. Bagaimanapun juga seorang analis harus dapat memastikan bahwa hasil yang diperoleh adalah benar seperti yang dtunjukkan oleh contoh di bawah.

Kromatografi gas dapat digunakan untuk analisis karenaretensi bersifat karakteristik pada tiap senyawa. Identifikasi puncak dapat diperoleh dengan menggunakan inframerah atau spektrometri masa akan tetapi teknik sering tidak ada atau biaya sangat mahal.
Sampel yang paling sulit dianalisis adalah sampel yang komponen-komponennya benar-benar tidak diketahui. Dalam hal ini konsultasi data retensi terkadang tidaklah cukup.
Penambahan Unsur ke dalam Sampel (Spiking)
Metode percobaan yang paling mudah untuk identifikasi puncak adalah dengan menambahkan komponen ke dalam sampel dan mencoba untuk mengamati perubahan sebagai respon didalam spiked sampel.
  1. Metode mudah
  2. tidak mudah jika komponen yang lain mungkin memiliki waktu retensi yang sama.
  3. Dapat digunakan untuk menunjukkan ketidakhadiran dari suatu unsur dengan menampakannya pada waktu retensi yang benar-benar berbeda.
  4. Kemurnian spike harus diketahui karena ketidakmurnian dapat memberikan petunjuk yang salah.
Perbandingan Data Retensi
Volume retensi suatu komponen adalah karakteristik sampel dan fase cair. Ini dapat digunakan untuk identifikasi komponen-komponen dalam sampel. Data retensi yang belum terkoreksi biasanya tidak digunakan mengingat volume retensi tergantung pada :
  1. Kolom
  2. Fase cair
  3. Temperatur kolom
  4. Kecepatan aliran
  5. Jenis gas pembawa
  6. Volume mati instrumen
  7. Penurunan tekanan across kolom
Akan tetapi hal itu dapat digunakan pada sampel yang sudah diketahui informasinya dan tersedia standarisasinya. Kemampuan instrumen dalam menghasilkan data di perlukan dalam operasional isotermal maupun terprogram. Jika semua parameter operasional dapat konstan berulang-ulang maka perbandingan data retensi sampel dapat dibuat terhadap standar.

Gambar 18.19. Perbandingan kromatogram larutan standar (B) dengan larutan sampel (A)
Retensi Relatif a sebagai Data Retensi yang direkomendasikan untuk Indentifikasi sampel yang tidak diketahui. Retensi relatif a adalah yang direkomendasikan untuk indentifikasi puncak sebagai sesuatu yang relatif terhadap standar dan juga diperoleh dari data retensi yang disesuaikan. Ini lebih mudah diperoleh dan hanya bergantung pada jenis fase cair dan temperatur kolom.

Identifikasi dengan Logaritma Retensi
Mengambarkan grafik dari data retensi relatif atau yang disesuaikan terhadap berbagai parameter fisik senyawa atau serangakaian homologi dapat memberikan petunjuk dari identitas sampel yang belum diketahui.
Identifikasi dengan Menggunakan Retention Index
Konstanta bahan terlarut Kovats Indices dan Rohschneider dapat memberikan petunjuk yang baik mengenai identitas atau jumlah karbon untuk beberapa senyawa. Data ini tersedia dalam Jurnal Kromatografi dan publikasi ASTM. Metode pergeseran puncak juga merupakan alat yang baik untuk identifikasi kualitatif.
Identifikasi dengan Menggunakan Dua Detektor
Perbandingan rasio respon dari senyawa yang dianalisa oleh dua detektor yang berbeda dibawah kondisi yang telah ditetapkan bersifat karakteristik pada senyawa tersebut.
Sampel biasanya dikromatografikan pada satu kolom dan kolom dibagi untuk dua detektor yang berbeda dengan yang masing-masing di rekam ke kromatogram secara bersamaan.
Kedua detektor tersebut spesifik seperti detektor “flame photometric detector (FPD)” akan memberi respon pada senyawa-senyawa sulfur dan phosporus, detektor “electron captive detector (ECD)” akan memberi respon pada senyawa-senyawa halogen, sementara thermionic spesific detector (TSD) akan memberi respon pada senyawa-senyawa nitrogen dan phosphorus. Detektor-detektor tersebut diterapkan secara luas dalam analisa obat-obatan dan pestisida.
Pendekatan ini umumnya direkomendasikan untuk deteksi senyawa spesifik dibandingkan general qualitative digunakan sebagai kromatogram yang sulit untuk diinterpretasikan. Identifikasi dengan Penggabungan dengan Metode penentuan Fisik lainnya
Pada saat fraksi dari senyawa yang dielusi telah dikumpulkan ini memungkinkan untuk diidentifikasi oleh teknik fisik lainnya. Teknik ini termasuk :
  1. Mass Spectrometry – Berhubungan langsung dengan kolom kapiler
  2. Infra red spectrometry – langsung ke dalam cell sampel gas atau cair
  3. Nuclear Magnetic Resonance
  4. Coulometry
  5. Polarography
  6. UV Visible Spectroscopy
  7. Atomic absorption
  8. Inductively coupled plasma
  9. Flamephotometry
Uji Kimia
Effluen gas dapat bergelembung pada saat meewati tabung yang berisi reagen-reagen dan rekasi dapat teramati untuk memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi senyawa seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Metode ini mahal dan diterapkan dengan cepat.

Jumat, 22 April 2011

Kromatografi Cair (Liquid Chromatography)

Terdapat dua model operasional yang didasarkan pada polaritas relatif dari fase diam dan fase bergerak.
  1. Normal phase Chromatograpy :
    Fase diam bersifat polar kuat dan fase gerak bersifat non-polar
    Misalnya : Silika = fase diam , n-hexane = fase gerak
  2. Reversed phase Chromatography:
    Fase diam bersifat non-polar dan fase gerak bersifat polar.
    Misal : Hydrocarbon = fase diam, air = fase gerak
Gambar 18.21. menggambarkan kedua teknik tersebut menunjukkann elusi komponen sampel dengan polaritas berbeda.
Gambar 18.21. Ilustrasi kromatografi cair yang normal dan “reversed phase”.
Fase gerak dapat dipompakan ke dalam kolom dengan tiga cara :
  1. Isokratik:aliran tetap (konstan) dan ketetapan komposisi dari fase gerak tetap berlaku.
  2. Gradient Elution:aliran konstan dan perubahan komposisi dari fase gerak terjadi.
  3. FlowProgram:aliran bervariasi dan ketetapan komposisi dari fase gerak terjadi.
Kromatografi Padat Cair (Adsorpsi) (Liquid Solid Chromatography)
Fase diam adalah adsorben dan pemisahan didasarkan pada adsorpsi berulang dan desorpsi bahan terlarut (analit). Bahan terlarut ditambahkan ke sistem padat (misal silika) cair (misal aseton).
Skala Polaritas Jenis-jenis Senyawa
(didasarkan pada kenaikan retensi)
Fluorocarbon
Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbon)
Olefins
Aromatik
Senyawa halogen
Eter
Senyawa nitro
Ester = keton = aldehid
Alkohol = amina
Amida
Asam karbosilat (Carboxylic Acids)
Keseimbangan
Kromatografi Cair Cair (Liquid Liquid Chromatography)
Fase diam merupakan cairan (lebih baru-baru ini bonded phase) yang dilapiskan pada patana inert (bahan pendukung). Bahan terlarut ditambahkan ke dalam sistem yang mengandung dua pelarut yang tidak dapat dicampur dan memenuhi keseimbangan
Konstanta Partisi dihubungkan pada rasio partisi k’ via volume tiap fase oleh persamaan
High Performance Liquid Chromatograph (HPLC)
Kromatografi Penukar Ion (Ion Exchange Cromatography)
Fase diam berupa penukar kation maupun anion yang terdiri atas gel silika atau polimer dengan berat molekul tinggi dimana merupakan gugus ionik berikatan kimia,
Bahan terlarut (bersifat ionik) ditambahkan pada sistem pertukaran kation atau anion dengan polar eluan (misal air).
Mekanisme pemisahan berdasarkan pada daya tarik elektrostatik.
Kromatografi Pasangan Ion (Ion Pair Chromatography)
Dalam Ion Pair Chromatography dipilih sistem normal atau reversed phase dan counter ion ditambahkan pada eluan. Dalam kebanyakan kasus sistem reversed phase lebih disukai. Ion Pair Chromatographytelah digunakan untuk memisahkan sampel yang mengandung komponen ionik maupun non-ionik.
Saat ini terdapat dua kontroversi mengenai mekanisme pemisahan dan ada dua kubu kontroversi mendera satu mekanisme berikut:
  • Bagian akhir counter-ion lipophilic diadsorbpsi ke fase diam dan pertukaran ion terjadi dalam cara normal (lihat atas)
  • Analit dikombinasikan dengan counter ion dan mengambil bagian dalam kromatografi sebagai pasangan ion

Eksperimen Kimia Terbesar dalam Perayaan Tahun Kimia Internasional 2

Tahun 2011 ini merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi para peneliti,
ilmuwan, akademisi, praktisi, maupun para pecinta kimia di seluruh dunia karena
UNESCO dan IUPAC telah menetapkan tahun ini sebagai Tahun Kimia Internasional
2011 (International Year of Chemistry/IYC 2011).

Sejak dibuka secara resmi pada tanggal 27 Januari 2011 di markas besar UNESCO di
Paris, Perancis, telah dijadwalkan berbagai macam acara perayaan Tahun Kimia
Internasional 2011 ini. Salah satu acara yang cukup fenomenal adalah diadakannya
eksperimen kimia terbesar di dunia yang serentak digelar di seluruh dunia pada
22 Maret 2011.

Eksperimen kimia terbesar di dunia ini bertajuk "Water: A Chemical Solution" ,
yang rencananya diperuntukkan bagi segenap siswa-siswi sekolah di seluruh dunia
dengan berfokus pada penelitian keadaan air lokal di tiap negara dan solusi
teknologi kimia dalam mengatasi permasalahan ketersediaan air bersih dan air
minum di seluruh dunia. Eksperimen global semacam ini akan mendukung
tujuan-tujuan dari Tahun Kimia Internasional 2011 dimana salah satunya ialah
untuk meningkatkan antusiasme generasi muda terhadap bidang sains, khususnya
kimia.



Modul eksperimen ini disesuaikan dengan usia, minat, dan kemampuan para siswa.
Baik anak-anak maupun remaja dapat melakukan eksperimen ini sendiri, maupun
didampingi orang tua, guru, maupun teman-teman sekolahnya. Eksperimen ini juga
tergolong murah karena menggunakan peralatan sederhana, bahkan tanpa biaya sama
sekali. Beberapa eksperimen yang akan dilakukan adalah pengukuran pH air,
salinitas (kadar garam) air, pengolahan air kotor menggunakan penyaring buatan
rumah, dan distilasi.

Eksperimen kimia global ini diharapkan dapat mendukung perkembangan dan
penerapan teknologi kimia di berbagai bidang, khususnya pada penerapan industri
berbasis lingkungan. Eksperimen ini juga diharapkan akan meningkatkan kesadaran,
minat dan kemampuan generasi muda di masa mendatang dalam menerapkan teknologi
kimia yang ramah lingkungan.

Senin, 07 Februari 2011

Pengujian Protein

A. Fungsi Protein
Zat pembentuk sel baru
Zat penyusun sel seperti; nukleoprotein, enzim, hormon, antibodi, dan kontraksi
Zat pengganti sel rusak
Sumber energi (4 kkal/gram)
B. Pengertian
Polimer dengan asam amino sebagai monomer-monomernya.
Polipeptida rantai panjang dengan salah satu ujungnya berupa asam karboksilat dan ujung lainnya gugus amina.
Makromolekul (BM > 40.000) dan termasuk juga kelompok makronutrien.
C. Pengujian
Kualitatif
1. Biuret
Protein + (CuSO4++NaOH 20 %) biru lembayung

2. Millon
Protein + Hg2(NO3)2 merah (gugus fenol pada asam amino tirosin)
3. Ninhidrin
Protein + pereaksi ninhidrin biru lembayung
Kuantitatif
1. Volumetri
- Kjeldahl
Mengukur kadar protein total berdasarkan jumlah nitrogen yang terdapat dalam sampel cocok untuk protein tak larut atau terkoagulasi akibat pemanasan dalam pengolahan.
Prinsipnya ialah melakukan tiga tahap pengujian, yaitu :
- Destruksi : mengubah N dalam protein menjadi (NH4) 2SO4
- Destilasi : memecah (NH4)2SO4  NH3 ditangkap oleh asam
- Titrasi : mengukur sisa asam yang tidak bereaksi dengan NH3
Kadar protein akhir dihitung berdasarkan rumus sbg berikut :

= V NaOH (blanko) – V NaOH (sampel) x N NaOH x 14,008 x 100% Fk
  sampel (mg)
- Titrasi Formol
Gugus amina diikat oleh formaldehid, sehingga protein menjadi bersifat asam dapat dititrasi menggunakan basa NaOH cocok untuk produk susu.
2. Gasometri
Protein + asam nitrit menghasilkan gas N2 dimurnikan dengan kalium permanganat kemudian dapat diukur volumenya dalam satu tempat tertentu. Metode ini lebih selektif daripada metode Kjeldahl disebabkan hanya bereaksi dengan gugus amin alifatik primer saja.
3. Spektrometri
Metode ini tepat digunakan untuk sampel yang mengandung protein terlarut, seperti pada produk-produk hasil ternak (telur dan daging) serta biji-bijian yang belum mengalami perubahan akibat pemanasan/pengolahan. Ada dua jenis sinar yang digunakan dalam metode ini, yaitu menggunakan sinar UV atau sinar tampak (visibel). Adanya gugus aromatik pada asam-asam amino seperti fenilalanin, tirosin, dan triptofan dapat menangkap sinar UV. Adapun jika menggunakan sinar tampak, maka terlebih dahulu diperlukan penambahan pereaksi, seperti tiga (3) macam reaksi berikut :
- Metode Biuret
Reaksi antara ikatan peptida dalam protein dengan logam Cu pada suasana basa menghasilkan komplek warna biru yang dapat diukur secara spektrofotometri pada λ 540 - 560 nm. Metode ini tepat untuk produk tepung-tepungan, gandum, darah, dan anggur.
- Metode Folin Ciocalteu
Metode ini didasarkan pada reduksi pereaksi Folin (asam fosmolibdat dan asam fosfotungsat) oleh gugus fenol pada tirosin dan triptofan menghasilkan molibdenum warna biru yang dapat diukur secara kolorimetri/ spektrofotometri. Cara ini relatif lebih cepat dan lebih peka, namun warna yang dihasilkan kurang stabil
- Metode Lowry
Metode ini merupakan pengembangan dan penggabungan dari metode Biuret dan metode Folin yang dilakukan oleh Lowry kurang lebih 45 tahun yang lalu. Adanya inti aromatis pada asam amino tirosin, triptofan, dan fenilalanin akan mereduksi kedua macam perekasi Lowry A (asam fosfomolibdat : asam fosfotungsat 1:1) menjadi molibdenum yang berwarna biru yang selanjutnya ditambahkan perekasi Lowry B (CuSO4 + Na2CO3 2% dalam NaOH 0,1 N + K Na-tatrat 2%) sehingga menghasilkan warna yang lebih stabil dan dapat diukur absorbansinya pada λ 600 nm. Metode ini lebih senditif daripada metode Biuret.
4. Spektrofuorometri
Asam amino tirosin dan triptofan dapat berfluorosensi pada λ eksitasi 280 nm dan λ emisi 348 nm. Keuntungan metode ini ialah lebih sensitif daripada menggunakan spektrofotometri UV karena dalam kadar yang lebih kecil mampu membrikan respon yang lebih tajam, serta lebih selektif karena tidak semua senyawa dapat berfluorosensi.
5. Tubidimetri
Metode ini didasarkan pada kekeruhan, dimana protein dalam suatu sampel dapat diendapkan dengan ditambahkan bahan pengendap protein, seperti asam trikloroasetat, kalium feri sianida, dam asam sulfosalisilat. Kurva baku dapat dibuat untuk mengubungkan antara tingkat kekeruhan sampel dengan kadar protein dalam sampel. Semakin tinggi tingkat kekeruhan sampel menunjukan semakin tinggi pula kadar proteinnya. Metode ini jarang dilakukan.
6. Pengikatan Zat Warna
Adanya gugus polar dalam protein dapat mengikat zat warna yang bermuatan berlawanan dengan muatan protein membentuk komplek warna yang tak larut. Zat warna yang sering digunakan ialah zat warna asidik seperti Amino Black 10B (λ maks 615 nm) dan Orange G (λ maks 485 nm) karena memiliki 2 gugus –SO3H (negatif) sehingga akan berikatan kuat dengan gugus amina yang bersifat basa dari protein.
7. Kromatografi
- Kromatografi Kertas dan Krom.Lapis Tipis
Metode ini sudah jarang dilakukan dengan ditemukannya metode lain yang lebih peka dan sensitif serta memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi, seperti KCKT dan KG.
- KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
Metode ini merupakan penyempurnaan dari metode-metode yang telah ada, seperti spektrofotometri UV dan sinar tampak yang tidak mampu mendeteksi asam-asam amino yang tidak memiliki gugus aromatis. Untuk dapat mendeteksinya, diperlukan satu perlakuan tambahan terlebih dahulu, yaitu dengan menderivatisasi menjadi asam-asam amino yang dapat dideteksi (berfluorosen). Oleh karena itu, penting disini ialah pemilihan satu perekasi penderivat, yaitu yang memiliki syarat-syarat minimal, seperti :
- Mampu menghasilkan produk yang dapat ditangkap oleh sinar UV maupun sinar tampak (sepktrofotometri) ataupun dapat membentuk senyawa berfluorosen sehingga dapat diukur dengan spektrofulorometri.
-Mampu menghasilkan produk sebesar mungkin (100%)
- Mampu menghasilkan produk yang stabil selama prose derivatisasi mampun deteksi.
Beberapa pereaksi penderivat yang dapat digunakan, diantaranya ialah PITC (Fenil isotiosianat), BITC (Butil isotiosianat), OPA (o-ftalaldehid), dan AQC (6-aminokuinolil-N-hidroksisuksinimidil-karbamat)
- Kromatografi Gas
Dalam metode ini juga diperlukan satu perlakuan awal untuk menderivatisasi menjadi senyawa yang lebih volatil atau dapat menguap.



DAUn Jeruk Purut

Daun Jeruk purut
Jenuk purut banyak ditanam orang di pekarangan atau di kebun. Daunnya merupakan daun majemuk menyirip beranak daun satu. Tangkai daun sebagian melebar menyerupai anak daun. Helaian anak daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung tumpul sampai meruncing, tepi beringgit, panjang 8 -15 cm, lebar 2 – 6 cm, kedua permukaan licin dengan bintik bintik kecil berwarna jernih, permukaan atas warnanya hijau tua agak mengilap, permukaan bawah hijau muda atau hijau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum. Bunganya berbentuk bintang, berwarna putih kemerah-merahan atau putih kekuningkuningan. Bentuk buahnya bulat telur, kulitnya hijau berkerut, berbenjolbenjol, rasanya asam agak pahi.[3]
Jeruk purut, merupakan tumbuhan perdu yang dimanfaatkan terutama buah dan daunnya sebagai bumbu penyedap masakan.
Dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kaffir lime, sementara nama lainnya ma kruut (Thailand), krauch soeuch (Kamboja), khi hout (Laos), shouk-pote (Burma), kabuyau, kulubut, kolobot (Filipina), dan truc (Vietnam).
Jeruk purut termasuk ke dalam subgenus Papeda, berbeda dengan jenis jeruk pasaran lainnya, sehingga penampilannya mudah dikenali. Tumbuhannya berbentuk pohon kecil (perdu).
Klasifikasi daun jeruk purut :
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Geraniales
Suku : Rutaceae
Marga : Citrus
Jenis : Citrus hystrix DC
Karakteristik jeruk purut ini didominasi oleh kandungan sitronallanya yaitu sebesar 80% dan sisanya adalah citrolelol 10%, nerol dan limonena 10%. Jeruk purut mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan jeruk-jeruk lainya karena pada jeruk lainnya yang mendominasi adalah enantiomernya.
Karakteristik kandungan komponen yang terkandung dalam jeruk purut.
Komponen
Persen kandungan (%)
sitronellal
80
sitronellol
10
nerol
5
Limonena
5

Komposisi kimia minyak atsiri daun jeruk purut :
Komposisi
Kimia (%)
Destilasi
Destilasi air
Licken- uap
Macerasi
Perkolasi Nickerson
Sitronellal
80,673
79,666
59,554
50,324
20,874
Linaliol
1,357
0,912
4,806
4,218
0,121
Sitronelil asetat
0,448
1,598
0,726
2,996
0,099
Sitral
1,221
1,995
0,648
1,826
0,089
Sitronellol
6,915
6,512
7,280
14,915
2,275
Nerol
-
0,345
-
-
0,038
Geraniol
0,495
0,446
0,085
0,854
0,027

Dalam dunia boga Asia Tenggara penggunaannya cukup sering dan rasa sari buahnya yang masam biasanya digunakan sebagai penetral bau amis daging atau ikan untuk mencegah rasa mual, seperti pada siomay. Ikan yang sudah dibersihkan biasanya ditetesi perasan buahnya untuk mengurangi aroma amis.
Daun jeruk juga banyak dipakai untuk masakan. Potongannya dicampurkan pada bumbu pecel atau juga gado-gado untuk mengharumkan. [4]